30/05/2026
Jakarta
Berita

Nasib Timur Tengah: Trump Jadi Presiden AS

Kemenangan Donald Trump pada pemilu 2024 dan kembalinya ia sebagai Presiden Amerika Serikat kemungkinan besar akan membawa dampak signifikan. Ada berbagai dampak terhadap dinamika politik, ekonomi, dan keamanan di Timur Tengah. Selama masa kepresidenannya sebelumnya (2017-2021), Trump memperkenalkan sejumlah kebijakan yang kontroversial namun berdampak besar. Mulai dari pengurangan keterlibatan militer AS di wilayah tersebut hingga normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab. Kembali ke Gedung Putih, Trump kemungkinan akan meneruskan atau bahkan memperkuat kebijakan luar negeri yang berfokus pada kepentingan Amerika. Amerika memanfaatkan hubungan dekatnya dengan beberapa pemimpin di kawasan ini.

Berikut ini adalah beberapa prediksi terkait nasib Timur Tengah jika Trump kembali menjadi Presiden AS pada 2024:

1. Pendekatan “America First” yang Kembali Mewarnai Kebijakan Luar Negeri

Salah satu ciri khas kepresidenan Trump adalah kebijakan “America First,” yang menekankan kepentingan domestik AS di atas komitmen internasional. Kembalinya Trump kemungkinan besar akan membawa Amerika Serikat untuk kembali menarik diri dari berbagai komitmen multilateral. Kemungkinan besar lebih fokus pada kesepakatan bilateral yang menguntungkan bagi AS. Di Timur Tengah, ini bisa berarti lebih sedikit keterlibatan dalam konflik regional dan lebih banyak dorongan bagi negara-negara Timur Tengah untuk menanggung beban keuangan dan militer secara mandiri.

Dampak:

  • Pengurangan Keterlibatan Militer AS: Seperti yang terlihat pada masa pemerintahannya sebelumnya. Trump cenderung ingin mengurangi kehadiran militer AS di Timur Tengah. Dengan menurunkan anggaran militer untuk operasi-operasi di kawasan tersebut. Negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kemungkinan akan merasa tekanan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka sendiri.
  • Ketergantungan pada Aliansi Bilateral: Trump lebih tertarik untuk membentuk hubungan bilateral dengan negara-negara penting di Timur Tengah, misalnya dengan Israel, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk lainnya. Ini mungkin memperkuat aliansi dengan negara-negara tersebut namun mengabaikan peran AS dalam organisasi multilateral seperti PBB atau organisasi internasional lainnya.

2. Normalisasi Hubungan Israel dan Negara-negara Arab Lanjut

Pada masa kepresidenannya yang pertama, Trump memainkan peran besar dalam mendorong normalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko, melalui apa yang dikenal sebagai “Abraham Accords.” Trump kemungkinan akan melanjutkan dan bahkan memperluas inisiatif ini dengan mendekati lebih banyak negara Arab dan negara-negara Muslim lainnya untuk membangun hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel.

Dampak:

  • Konsolidasi Hubungan Israel-Arab: Trump mungkin akan melanjutkan kebijakan ini dengan mendorong negara-negara yang lebih besar, seperti Arab Saudi, untuk meresmikan hubungan dengan Israel. Ini bisa mengarah pada stabilitas lebih besar di kawasan tersebut, meskipun hal itu juga bisa memicu ketegangan dengan Iran dan kelompok-kelompok militan yang mendukung Palestina.
  • Mengabaikan Palestina: Pendekatan Trump yang cenderung lebih mendukung posisi Israel bisa memperburuk ketegangan dengan negara-negara yang lebih pro-Palestina. Ini mungkin mengarah pada isolasi lebih lanjut bagi Palestina dalam konteks geopolitik Timur Tengah.

3. Kebijakan terhadap Iran: Pendekatan yang Lebih Agresif

Trump dikenal dengan kebijakannya yang keras terhadap Iran. Dimulai dengan menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada 2018 dan memberlakukan sanksi berat terhadap negara tersebut. Dalam masa pemerintahannya yang kedua, kebijakan ini mungkin akan diperkuat dengan lebih banyak tekanan dan mungkin bahkan sanksi tambahan terhadap Iran.

Dampak:

  • Meningkatkan Ketegangan dengan Iran: Ketegangan antara AS dan Iran mungkin akan meningkat lagi. Dengan kemungkinan terjadinya konfrontasi terbuka jika kebijakan sanksi lebih ketat diterapkan. Ini bisa memengaruhi stabilitas kawasan, terutama di negara-negara yang terlibat dalam pengaruh Iran seperti Suriah, Lebanon, dan Irak.
  • Dukungan untuk Negara-negara Anti-Iran: Trump kemungkinan akan lebih mendukung negara-negara yang menentang Iran, seperti Arab Saudi dan Israel. Ini dapat meningkatkan ketegangan antara blok pro-AS dan Iran, menciptakan lebih banyak gejolak di kawasan tersebut.

4. Mengurangi Keterlibatan dalam Konflik Suriah dan Yaman

Pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, kebijakan luar negeri AS cenderung menghindari keterlibatan langsung. Seperti dalam konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah, seperti perang di Suriah dan Yaman. Trump berfokus pada pengurangan keterlibatan militer AS di negara-negara ini, dan ini mungkin akan terus berlanjut jika ia terpilih kembali.

Dampak:

  • Pengurangan Keterlibatan di Suriah: Meskipun Trump mungkin akan terus mendukung pasukan Kurdi di Suriah dalam menghadapi ISIS, kebijakan AS cenderung tidak berkomitmen untuk menyelesaikan konflik Suriah secara langsung. Ini bisa memperburuk ketegangan dengan Rusia dan Iran yang memiliki kepentingan kuat di Suriah.
  • Fokus pada Solusi Diplomatik di Yaman: Trump bisa memilih untuk lebih mendukung pendekatan diplomatik daripada keterlibatan militer di Yaman, meskipun ini tidak akan menghilangkan pengaruh besar Arab Saudi di wilayah tersebut. Konflik ini kemungkinan akan tetap berlanjut tanpa solusi yang jelas dalam waktu dekat.

5. Isolasi Politik dan Pengaruh Internasional AS

Dengan pendekatan unilateral Trump yang lebih memprioritaskan kepentingan nasional Amerika, ada kemungkinan bahwa hubungan AS dengan sekutu tradisional, seperti Eropa dan negara-negara lain di kawasan, bisa memburuk. AS mungkin akan lebih mengisolasi dirinya dari peran kepemimpinan global dalam beberapa masalah internasional.

Dampak:

  • Mengurangi Peran AS di Organisasi Internasional: Trump mungkin lebih memilih untuk fokus pada kebijakan luar negeri bilateral yang lebih menguntungkan AS, daripada terlibat dalam solusi multilateral yang melibatkan banyak negara. Ini bisa melemahkan pengaruh AS dalam organisasi internasional seperti PBB atau bahkan dalam negosiasi perubahan iklim global.
  • Kehilangan Dukungan dari Sekutu Global: Negara-negara di Eropa dan kawasan lainnya mungkin semakin merasa terasingkan, meskipun hubungan dengan negara-negara tertentu seperti Israel atau Arab Saudi akan tetap kuat.

Kesimpulan

Kemenangan Trump pada pemilu 2024 kemungkinan besar akan membawa kebijakan luar negeri AS yang lebih terfokus pada kepentingan nasional, pengurangan keterlibatan militer di Timur Tengah, dan peningkatan hubungan bilateral dengan negara-negara kunci di kawasan ini. Meskipun hal ini bisa menciptakan stabilitas bagi negara-negara yang dekat dengan AS, seperti Israel dan Arab Saudi, ketegangan dengan Iran dan negara-negara yang mendukung Palestina mungkin akan meningkat. Ketidakpastian global yang lebih besar dan peran AS yang semakin terisolasi dapat menjadi tantangan besar bagi Timur Tengah, yang sudah lama menjadi kawasan dengan dinamika politik dan keamanan yang rumit. Baca juga cara membangun jaringan bisnis kuat untuk kamu pengusaha muda,baca disini.

Leave feedback about this

  • Quality
  • Price
  • Service

PROS

+
Add Field

CONS

+
Add Field
Choose Image
Choose Video