03/02/2026
Jakarta
Berita Business

Pemagaran Laut Tangerang-Bekasi: Bisnis atau Ancaman?

Fenomena pemagaran laut di pesisir Tangerang dan Bekasi belakangan ini menarik perhatian publik. Dengan panjang lebih dari 30 km di Tangerang dan 8 km di Bekasi, area yang dipagari mencakup ribuan hektar perairan. Meskipun ada potensi bisnis besar di baliknya, fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait dampak sosial dan lingkungan.

Pemagaran Laut dan Spekulasi Reklamasi

Pemagaran laut menggunakan bambu yang ditancapkan di dasar laut, terkait dengan rencana reklamasi untuk pengembangan properti. Area yang dipagari di Tangerang bisa mencapai 537,5 hektar, cukup untuk membangun kota mandiri. Ini menunjukkan potensi besar bagi pengembang properti yang ingin memanfaatkan lokasi strategis di dekat Jakarta.

Proyek reklamasi ini menjadi peluang bagi investor mencari lahan di sekitar Jakarta. Survei Colliers International menunjukkan permintaan properti meningkat 15%, didorong pertumbuhan populasi dan infrastruktur.

Legalitas yang Dipertanyakan

Isu utama yang mencuat adalah legalitas pemagaran laut. Beberapa laporan menyebutkan bahwa beberapa area yang dipagari telah memiliki sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB), meski reklamasi belum mendapatkan izin resmi. Kementerian ATR/BPN pada 2021 menyebutkan bahwa lebih dari 40% sertifikat HGB di kawasan pesisir diterbitkan sebelum adanya pengesahan rencana tata ruang wilayah. Hal ini menimbulkan keraguan terhadap transparansi penerbitan dokumen legal tersebut, yang bisa jadi mengarah pada pelanggaran hukum.

Jika benar ada pelanggaran hukum, dampaknya bisa merugikan masyarakat lokal. Nelayan yang bergantung pada wilayah perairan tersebut kehilangan akses ke area tangkapan ikan, sementara ekosistem laut terancam rusak.

Baca juga tentang Pemasaran di Era Digital : Cara Membangun Brand yang Viral disini!

Potensi Bisnis yang Menjanjikan

Fenomena ini juga mencerminkan potensi bisnis besar. Jika reklamasi terealisasi, nilai ekonominya bisa mencapai triliunan rupiah. Seperti reklamasi di Pantai Indah Kapuk yang menarik investasi Rp12 triliun dalam tiga tahun terakhir. Namun, keberhasilan proyek bergantung pada transparansi, perencanaan matang, dan kepatuhan regulasi lingkungan.

Dampak Sosial dan Lingkungan

Dari sisi lingkungan, reklamasi sering kali menyebabkan perubahan besar pada kondisi fisik kawasan pesisir. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters pada tahun 2020 mencatat bahwa reklamasi dapat meningkatkan risiko banjir hingga 30% di wilayah pesisir akibat perubahan aliran air dan pengurangan kapasitas penyerapan tanah. Selain itu, penelitian lain dari Universitas Indonesia menunjukkan bahwa 70% habitat pesisir, seperti mangrove dan terumbu karang, dapat rusak permanen akibat aktivitas pengurukan laut. Pengurukan laut, misalnya, dapat mengganggu aliran air dan menyebabkan banjir di wilayah sekitar. Selain itu, penggunaan material reklamasi seperti pasir dan batu sering kali diambil dari daerah lain, yang pada gilirannya menyebabkan kerusakan lingkungan di tempat asal material tersebut.

Perlunya Regulasi dan Transparansi

Fenomena pemagaran laut ini menyoroti pentingnya regulasi yang lebih ketat dan transparansi dalam proses pengembangan kawasan pesisir. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap proyek yang dilakukan, terutama yang melibatkan reklamasi, harus memenuhi semua persyaratan hukum dan tidak merugikan masyarakat lokal. Selain itu, penting untuk melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, agar mereka merasa dilibatkan dan tidak hanya menjadi korban dari pembangunan. Transparansi juga menjadi kunci untuk memastikan bahwa investasi besar ini tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, pengembangan kawasan pesisir dapat menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan aspek sosial dan lingkungan.

Kesimpulan

Fenomena pemagaran laut di Tangerang dan Bekasi adalah contoh nyata dari kompleksitas antara potensi bisnis dan dampak sosial-lingkungan. Di satu sisi, langkah ini mencerminkan besarnya minat investor terhadap pengembangan kawasan pesisir sebagai salah satu strategi untuk memenuhi permintaan pasar properti. Di sisi lain, praktik ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang legalitas, dampak terhadap masyarakat lokal, dan kerusakan lingkungan. Untuk memastikan bahwa pengembangan kawasan pesisir dapat dilakukan secara berkelanjutan, diperlukan regulasi yang ketat, transparansi, dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan demikian, potensi bisnis besar ini dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Leave feedback about this

  • Quality
  • Price
  • Service

PROS

+
Add Field

CONS

+
Add Field
Choose Image
Choose Video